LPPM PLMK UM Gelar Layanan Kesehatan Kemanusiaan dan Kolaborasi Berkelanjutan Guna Mendukung Pemulihan Pascabencana di Manggarai Timur

oleh Tim SDGs LPPM | Sep 24, 2026 | LPPM, SDG 03

Author: Lisa Ramadhani Harianti

Editor: Nurul Hidayat

SDG : 3
Tanggal Mulai 2026-08-30
Tanggal Berakhir 2026-09-01
Jumlah Peserta 647
Program Studi Ilmu Perpustakaan (FS)
Penerima Manfaat 647 Warga yang terdampak bencana
Tempat Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur
Kolaborator Puskesmas Watunggong, NTT | –

Warga di wilayah terpencil yang terdampak bencana kerap menghadapi akses terbatas terhadap fasilitas medis, sehingga memerlukan intervensi kesehatan langsung sekaligus penguatan resiliensi jangka panjang. Menjawab kebutuhan tersebut, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Malang (UM) melalui Tim Pusat Lingkungan, Mitigasi dan Kebencanaan (PLMK) melaksanakan aksi kemanusiaan di tiga desa terdampak bencana di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 30 Agustus–1 September 2026.

Kegiatan ini bertujuan memberikan intervensi kesehatan langsung melalui diagnosis medis, pengobatan gratis, serta pendampingan psikososial, sekaligus menguatkan resiliensi masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan lingkungan melalui edukasi kesehatan dan pemetaan profil morbiditas wilayah pascabencana. Program ini mendukung SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, khususnya Target 3.8 tentang penyediaan akses terhadap layanan kesehatan dasar yang bermutu bagi masyarakat terpencil, serta Target 3.d tentang penguatan kapasitas peringatan dini dan manajemen risiko kesehatan melalui pemetaan profil morbiditas wilayah pascabencana. Kegiatan ini juga mendukung SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, khususnya Target 17.17 tentang kemitraan publik dan masyarakat sipil yang efektif, melalui kolaborasi berkelanjutan dengan Puskesmas Watunggong.

Pelaksanaan kegiatan mencakup Desa Satar Nawang, Desa Wea, dan Desa Golo Ngawan di Kecamatan Congkar. Sebagai bentuk kemitraan dengan mitra eksternal, tim relawan mencatatkan total 18 jam layanan (service hours) efektif dengan prosedur pelayanan yang sistematis, meliputi registrasi, anamnesis, pemeriksaan fisik dasar seperti tekanan darah, penanganan medis kuratif, hingga pemberian obat rawat jalan secara gratis. Metodologi ini juga mengintegrasikan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) yang komprehensif. Sebanyak 15 dosen dan mahasiswa terlibat aktif dalam memberikan layanan di lapangan.

Program ini berhasil menjangkau 647 warga masyarakat sebagai penerima manfaat utama. Data aktual menunjukkan temuan klinis yang signifikan: di Desa Satar Nawang ditemukan 54 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), dan di Desa Wea tercatat 47 kasus Gizi Kurang, yang menjadi indikator penting bagi intervensi nutrisi lanjutan.

Kegiatan ini mendukung SDG 3, khususnya Target 3.8, melalui penyediaan layanan kesehatan langsung bagi 647 warga di tiga desa terpencil yang terdampak bencana, mencakup diagnosis, pengobatan gratis, dan pendampingan psikososial. Kegiatan ini juga mendukung Target 3.d, melalui pemetaan profil morbiditas wilayah pascabencana, seperti temuan kasus ISPA dan Gizi Kurang, yang menjadi dasar penting bagi sistem peringatan dini dan manajemen risiko kesehatan masyarakat setempat. Selain itu, kegiatan ini mendukung SDG 17, khususnya Target 17.17, melalui kolaborasi berkelanjutan dengan Puskesmas Watunggong dalam mendukung pemulihan kesehatan masyarakat pascabencana.

Tantangan utama yang dihadapi adalah aksesibilitas geografis menuju lokasi terdampak dan keterbatasan fasilitas pendukung di puskesmas pembantu. Rekomendasi untuk masa depan mencakup pengembangan sistem telemedis sederhana dan penguatan kolaborasi lintas sektor yang lebih permanen guna memastikan masyarakat memiliki kesiapan jangka panjang dalam menghadapi anomali iklim yang berdampak pada kesehatan umum.

Dr. Heni Masruroh, S.Pd., M.Sc., selaku Kepala Pusat Lingkungan dan Mitigasi Kebencanaan, menyatakan, “Ini adalah upaya UM untuk turut dapat membantu proses pemulihan pascabencana.” Beliau menekankan bahwa kehadiran UM bukan sekadar memberikan bantuan sesaat, namun membangun pondasi kesehatan masyarakat yang lebih kokoh.

Ke depan, diharapkan kolaborasi antara UM dan Puskesmas Watunggong dapat terus berlanjut melalui pengembangan sistem telemedis sederhana dan penguatan kolaborasi lintas sektor, sehingga masyarakat Manggarai Timur memiliki kesiapan jangka panjang dalam menghadapi dampak kesehatan akibat anomali iklim dan bencana.

This site is registered on wpml.org as a development site. Switch to a production site key to remove this banner.