Penanggung Jawab Berita: Dr. Radeni Sukma Indra Dewi, S.S., M.Pd
| Komponen | Deskripsi |
| SDGs (yang dibidik program-kegiatan) | SDGs 4 (Quality Education) |
| Tanggal mulai | 21 Maret 2025 |
| Tanggal selesai | 21 September 2025 |
|
Number of participants (Jumlah anggota tim pelaksana kegiatan) |
4 Dosen Program Studi S2 dan S3 Pendidikan Dasar, 1 orang mahasiswa Program Studi S2 Pendidikan Dasar dan 2 orang mahasiswa Program Studi S3 Pendidikan Dasar |
|
Program Studi yang terlibat (sesuai anggota tim pelaksana) |
Program Studi S2 Pendidikan Dasar
|
| Service hours (Durasi Program) | 6 Bulan |
| Beneficiaries (Penerima Manfaat Langsung) |
33 Guru SD yang berasal dari Korsatpen/UPTD Kecamatan Jomblang Kota Semarang Provinsi Jawa Tengah dan 38 Guru Sekolah Dasar yang berasal dari Gugus 7 Kecamatan Sukun Kota Malang Provinsi Jawa Timur
|
| Location (Tempat Kegiatan) |
SDN Jomblang 01 Kecamatan Jomblang Kota Semarang Provinsi Jawa Tengah dan SDN Pisang Candi 02 Kecamatan Sukun Kota Malang Provinsi Jawa Timur
|
| Collaborator |
a. Ummi Kulsum, S.Pd.,M.Pd., selaku Kepala Sekolah dari SDN Jomblang 01 Kecamatan Jomblang Kota Semarang Provinsi Jawa Tengah b. Indah Sukowati, S.Pd., selaku Kepala Sekolah dari SDN Pisang Candi 02 Kecamatan Sukun Kota Malang Provinsi Jawa Timur |
| Impact Scale (Skala Dampak) |
Dengan menggunakan kerangka kerja SAMR dan menggabungkan Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) dengan Assemblr Edu Augmented Reality (AR), penelitian ini berhasil memfasilitasi strategi untuk meningkatkan pengajaran multiliterasi di sekolah dasar. Paradigma pengajaran Lee dan Owens menjadi dasar pendekatan pengembangan. Analisis, perencanaan, pengembangan, pelaksanaan, dan evaluasi merupakan tahap-tahap yang diikuti. Model ini dianggap secara teknis dan pedagogis layak oleh para ahli di bidang tersebut serta mereka yang spesialis dalam bidang materi pelajaran. 86,33% berpendapat model ini memiliki peluang sukses yang baik, dan 83,75% berpendapat model ini mungkin diterapkan. Program ini menunjukkan kinerja baik dalam uji kelayakan, dengan 98,81% siswa dan 95% guru menyatakan kepuasan mereka. Dengan kata lain, teknologi tersebut mudah digunakan dan siswa merasa menyenangkan saat belajar. Uji efektivitas juga menunjukkan bahwa kemampuan multiliterasi siswa meningkat. Skor rata-rata naik dari 67,83 pada pra-tes menjadi 93,51 pada pasca-tes, yang menunjukkan bahwa program tersebut berhasil. |
Malang – Tim peneliti dari Universitas Negeri Malang kembali menghadirkan inovasi pembelajaran yang mengintegrasikan teknologi mutakhir dalam kelas sekolah dasar. Penelitian bertajuk “Pengembangan Model Pembelajaran Problem Based Learning Terintegrasi Teknologi Augmented Reality Assemblr Edu Berbasis Model SAMR (Substitution, Augmentation, Modification, and Redefinition) dalam Pembelajaran Multiliterasi Sekolah Dasar” dipimpin oleh Dr. Radeni Sukma Indra Dewi, M.Pd., dengan anggota Dr. Shirly Rizki Kusumaningrum, M.Pd., Dr. Intan Sari Rufiana, M.Pd., dan Dr. Aynin Mashfufah, M.Pd. serta melibatkan mahasiswa Siti Ni’matul Fitriyah, Siti Mufidah, dan May Yati sebagai tim pengembang AR.
Penelitian ini berangkat dari kebutuhan untuk menjawab tantangan multiliterasi di era digital yang menuntut siswa berpikir kritis, kreatif, dan adaptif terhadap teknologi. Dengan memanfaatkan platform Assemblr Edu, tim peneliti mengembangkan model Problem Based Learning (PBL) yang berpadu dengan kerangka kerja SAMR (Substitution, Augmentation, Modification, Redefinition) guna menciptakan pengalaman belajar yang interaktif, kontekstual, dan sesuai dengan karakter generasi Z.
Melalui pendekatan Research and Development (R&D) model Lee & Owens, penelitian ini dilakukan di dua sekolah dasar, yakni SDN Pisang Candi 2 Kota Malang dan SDN Jomblang 1 Semarang, dengan melibatkan 128 siswa. Hasil analisis kebutuhan menunjukkan 88,8% guru dan siswa menghendaki pembelajaran multiliterasi yang lebih visual dan kontekstual. Media berbasis AR dianggap mampu menjawab keterbatasan pembelajaran konvensional yang selama ini berpusat pada teks.
Hasil penelitian ini menunjukkan keberhasilan pengembangan model Problem-Based Learning (PBL) yang terintegrasi dengan Assemblr Edu berbasis Augmented Reality dalam pembelajaran multiliterasi di sekolah dasar. Model pembelajaran inovatif ini memperoleh tingkat kelayakan sangat tinggi dari para ahli materi (88,33%) dan ahli media (83,75%), serta dinilai sangat praktis oleh guru (95%) dan siswa (98,81%). Peningkatan hasil belajar siswa juga signifikan, dengan rata-rata skor naik dari 67,83 pada pra-tes menjadi 93,51 pada pasca-tes. Melalui pendekatan berbasis model SAMR (Substitution, Augmentation, Modification, Redefinition), penelitian ini membuktikan bahwa penerapan teknologi AR mampu mengubah cara siswa memahami konsep abstrak menjadi pengalaman belajar yang interaktif, kolaboratif, dan kontekstual. Temuan ini mempertegas peran penting teknologi dalam memperkuat literasi digital siswa sekolah dasar dan menjadi bukti nyata bahwa inovasi pembelajaran berbasis PBL-AR dapat menjadi strategi efektif dalam meningkatkan kemampuan multiliterasi di era digital.

Menurut Dr. Radeni Sukma Indra Dewi, teknologi AR yang diintegrasikan dengan PBL bukan sekadar alat bantu visual, melainkan jembatan menuju pembelajaran yang bermakna.
“Ketika siswa dapat berinteraksi langsung dengan objek pembelajaran dalam bentuk tiga dimensi, mereka tidak hanya memahami konsep, tetapi juga memaknainya. Pembelajaran menjadi pengalaman yang hidup, menyenangkan, dan menumbuhkan rasa ingin tahu,” ungkapnya.
Pembelajaran dengan tema “Berapa Lamakah Mereka Akan Terurai?” dilaksanakan menggunakan model Problem Based Learning (PBL) yang diintegrasikan dengan media Augmented Reality (AR) melalui aplikasi Assemblr Edu untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan dan kemampuan multiliterasi siswa. Pada tahap orientasi terhadap masalah, guru menampilkan visualisasi 3D botol plastik di laut melalui Assemblr Edu untuk memancing rasa ingin tahu siswa terhadap isu sampah yang sulit terurai. Selanjutnya, siswa dikelompokkan dan dibimbing untuk mengorganisasi pertanyaan penelitian mengenai penyebab dan dampak sampah plastik terhadap lingkungan. Tahap penyelidikan dilakukan dengan mengamati model 3D proses penguraian berbagai jenis sampah menggunakan AR serta mencari informasi pendukung dari sumber digital. Hasil temuan mereka dikembangkan menjadi karya berupa poster edukatif interaktif di Assemblr Edu yang menampilkan waktu terurai dan solusi pengelolaan sampah. Pada tahap akhir, siswa mempresentasikan proyeknya dalam pameran mini berbasis AR dan melakukan refleksi kritis terhadap solusi yang diusulkan. Melalui tahapan ini, siswa tidak hanya belajar memecahkan masalah nyata secara kolaboratif, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan peduli terhadap kelestarian lingkungan.

https://app-edu.assemblrworld.com/creation/-3EQoke5zVXGvuJ5y2A6
Penelitian ini sejalan dengan SDGs 4 (Quality Education) dan semangat Kurikulum Merdeka, yang menekankan pembelajaran kontekstual, kolaboratif, dan berpihak pada siswa. Melalui hasil yang diperoleh, model pembelajaran PBL-AR berbasis SAMR dinilai efektif, praktis, dan layak diimplementasikan secara luas di sekolah dasar untuk memperkuat literasi digital dan berpikir kritis generasi muda.
