Tim FK UM Teliti Toksisitas dan Teratogenitas Ekstrak Kulit Salak pada Embrio Zebrafish, Dukung SDGs 3 dan 17

by Tim SDGs FK | Jun 28, 2025 | 2025, Faculty of Medicine, SDG 03, SDG 17

Nama Penanggung Jawab Berita: dr. Kiky Martha Ariesaka, M. Biomed

SDGs  (yang dibidik program-kegiatan) 3 dan 17
Monday Monday, 2 June, 2025
Ended  (Tgl Selesai) Saturday, 28 June, 2025
Number of participants (Jumlah anggota tim pelaksana kegiatan 7
Program Studi yang terlibat (sesuai anggota tim pelaksana S1 Kedokteran
Service hours  (Durasi Program/Jam) 160 Jam
Beneficiaries (Penerima Manfaat Langsung) Prodi S1 Kedokteran
Location (Tempat Kegiatan) Laboratorium FK UM
Collaborator Prof. Dr. Sharida Fakurazi dari Universiti Putra Malaysia (UPM), seorang pakar dalam bidang toksikologi molekuler dan farmakologi
Impact Scale (Skala Dampak) Internasional
Link File Documentary (g-drive open acces Tim FK UM Teliti Toksisitas dan Teratogenitas Ekstrak Kulit Salak pada Embrio Zebrafish, Dukung SDGs 3 dan 17 | Fakultas Kedokteran

Malang, Juni 2025 – Tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Malang (FK UM) tengah melaksanakan riset berjudul “Evaluasi Toksisitas dan Teratogenitas Ekstrak Etanol Kulit Salak (Salacca zalacca) Menggunakan Embrio Zebrafish (Danio rerio) yang Diinduksi Glukosa Tinggi”. Penelitian ini merupakan bagian dari program pendanaan desentralisasi LPPM Universitas Negeri Malang, dan menunjukkan komitmen institusi dalam mendukung riset berbasis potensi lokal serta kolaborasi internasional.

Penelitian ini dipimpin oleh dr. Anditri Weningtyas, M.Biomed dengan anggota tim peneliti yaitu dr. Kiky Martha Ariesaka, M.Biomed, dr. Lintang Widya S, M.Biomed, serta melibatkan mahasiswa FK UM yaitu Arif Ladika, Fannia Yosa Bakhtiar, dan Adhienna Liany A. Menariknya, proyek ini juga berkolaborasi secara internasional dengan Prof. Dr. Sharida Fakurazi dari Universiti Putra Malaysia (UPM), seorang pakar dalam bidang toksikologi molekuler dan farmakologi.

Penelitian ini bertujuan mengevaluasi keamanan dan potensi efek teratogenik dari ekstrak kulit buah salak (Salacca zalacca) yang telah diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif, terutama dalam konteks kondisi hiperglikemia. Model embrio zebrafish (Danio rerio) dipilih karena memiliki banyak kesamaan genetik dengan manusia dan sensitif terhadap paparan toksik, sehingga menjadi sistem uji yang sangat relevan dalam studi toksisitas dan pengembangan obat alami.

“Kulit salak merupakan limbah pertanian yang belum banyak dimanfaatkan secara optimal. Padahal, berdasarkan berbagai studi awal, kulit salak memiliki potensi antioksidan dan antidiabetik. Namun, sebelum dikembangkan lebih lanjut, tentu perlu dipastikan keamanannya,” ujar dr. Anditri.

Lebih lanjut, penelitian ini secara langsung mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s), terutama SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui upaya pengembangan sumber daya alam lokal sebagai kandidat terapi alami yang aman, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) lewat kolaborasi riset antar negara.

Dengan pendekatan saintifik dan kolaboratif ini, tim berharap dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan bahan alam Indonesia sebagai kandidat terapi alternatif yang aman, sekaligus meningkatkan kapasitas riset dan jejaring internasional FK UM.

Penelitian ini juga menjadi salah satu bukti konkret peran FK UM dalam mendukung pengembangan ilmu kedokteran berbasis riset, memperkuat jejaring ilmiah, dan memberdayakan mahasiswa dalam kegiatan riset yang berdampak nyata.

No Results Found

The page you requested could not be found. Try refining your search, or use the navigation above to locate the post.