Penanggung Jawab Berita: Yunita Asfia, S.Pd.
| Komponen | Deskripsi |
| SDGs (yang dibidik program-kegiatan) | SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas) |
| Tanggal mulai | 15 Mei 2025 |
| Tanggal selesai | 15 Agustus 2025 |
| Number of participants (Jumlah anggota tim pelaksana kegiatan) | 36 orang peserta |
| Program Studi yang terlibat (sesuai anggota tim pelaksana) | 2 Prodi (Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini) |
| Service hours (Durasi Program) | 4 Bulan |
| Beneficiaries (Penerima Manfaat Langsung) |
Penerima manfaat langsung dari penelitian ini adalah siswa Kelas X Program Keahlian Desain dan Produksi Busana di SMK Negeri 7 Malang yang memperoleh kemudahan dalam memahami materi pembuatan pola lengan balon dan lampion melalui media video edukatif POLELA. Selain itu, guru tata busana juga mendapatkan manfaat berupa sumber belajar tambahan yang dapat digunakan untuk mendukung proses pembelajaran, sedangkan sekolah memperoleh kontribusi berupa media pembelajaran digital inovatif yang dapat menunjang pengembangan kualitas pembelajaran di bidang tata busana. |
| Location (Tempat Kegiatan) | SMK Negeri 7 Malang |
| Collaborator | Nurul Aini, S.Pd. |
| Impact Scale (Skala Dampak) |
Skala dampak penelitian ini tampak secara langsung pada peningkatan pemahaman, keterampilan, dan motivasi belajar siswa dalam menyusun pola lengan balon dan lampion. Dampak lebih lanjut juga dirasakan oleh sekolah melalui tersedianya media pembelajaran berbasis audiovisual yang mendukung digitalisasi proses belajar mengajar. Meskipun penelitian ini masih terbatas pada satu sekolah, hasil yang diperoleh menunjukkan potensi penerapan lebih luas di berbagai SMK dengan konsentrasi tata busana, sehingga penelitian ini berpeluang memberikan dampak regional maupun nasional dalam pengembangan pembelajaran kejuruan. |
Malang – Dunia pendidikan kejuruan terus bergerak mengikuti perkembangan zaman. Di tengah derasnya arus digitalisasi, pembelajaran yang mengandalkan ceramah mulai terasa kurang memadai. Hal itu pula yang dirasakan oleh guru dan siswa di SMK Negeri 7 Malang, khususnya pada mata pelajaran pembuatan pola busana.
“Banyak siswa masih kesulitan mengikuti tahapan menggambar pola jika hanya dijelaskan lewat ceramah atau melalui papan tulis saja. Karena itu, kami berinisiatif membuat media audio-visual yang lebih interaktif,” jelas Yunita Asfia, yang bergabung dalam tim peneliti.
Dari keresahan itulah lahir sebuah gagasan: membuat media belajar berbasis audio-visual yang bisa memandu siswa dengan lebih jelas, sistematis, dan menarik. Gagasan itu kemudian diwujudkan dalam sebuah video edukatif berjudul POLELA (Pola Lengan Balon dan Lampion).
Bagi siswa jurusan Desain dan Produksi Busana (DPB), keterampilan membuat pola adalah kemampuan dasar yang wajib dikuasai. Pola menjadi fondasi utama sebelum kain dipotong dan dijahit menjadi pakaian. Namun kenyataannya, tidak sedikit siswa yang kesulitan memahami langkah-langkahnya.
Dalam satu kelas berisi 33 siswa, hampir setengahnya masih belum mampu mencapai KKTP (Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran) pada materi pola lengan. “Padahal kompetensi ini penting sekali, karena dari sini mereka bisa mengembangkan desain sesuai tren fesyen modern,” tambah Yunita.
Tim peneliti dari Universitas Negeri Malang kemudian menggunakan model pengembangan ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). Model ini banyak dipakai dalam desain pembelajaran modern.
Hasilnya cukup menggembirakan. Video POLELA mendapatkan penilaian “sangat layak” dari ahli materi (skor 3,43) maupun ahli media (skor 3,63). Bahkan, dari 450 tanggapan siswa terhadap 15 butir pertanyaan, 95,33% responnya positif.
POLELA tidak sekadar menjadi alternatif media ajar, tetapi juga membuka peluang baru bagi pembelajaran di era digital. Video ini bisa diakses melalui berbagai platform, mulai dari penyimpanan digital hingga kanal video daring seperti YouTube. Artinya, siswa tidak lagi terikat ruang kelas untuk belajar.
Bagi guru, POLELA menjadi media tambahan yang bisa memperkuat penjelasan di kelas. Guru tetap bisa memberikan arahan langsung, tapi dengan dukungan visual yang lebih jelas.
Pendidikan vokasi di Indonesia memiliki peran strategis dalam menyiapkan tenaga kerja terampil. Namun sering kali, pembelajaran di kelas masih belum sepenuhnya menyesuaikan kebutuhan industri yang semakin modern. Dengan adanya media seperti POLELA, siswa bukan hanya memahami teori, tetapi juga lebih terampil secara praktik. Inovasi sederhana ini bisa menjadi inspirasi bagi sekolah lain. Kalau media pembelajaran dibuat lebih interaktif, siswa tidak hanya lebih mudah memahami materi, tapi juga lebih termotivasi. Dampaknya bisa besar untuk kualitas lulusan SMK.
